
Gencatan Senjata 10 Jam: Saat Bantuan dan Bom Turun Bersamaan di Gaza
Statistik yang Membeku di Tengah Kepedihan
Laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza menegaskan krisis yang tak lagi bisa disangkal. Total korban meninggal akibat kelaparan telah mencapai 133 jiwa, termasuk 87 anak-anak. Enam di antaranya meninggal dalam 24 jam terakhir. Ini bukan sekadar angka, melainkan jerit diam dari tubuh-tubuh kecil yang perlahan berhenti bernapas di balik reruntuhan dan tenda pengungsian.
Bulan Sabit Merah Mesir, salah satu pihak yang masih mampu mengakses Gaza selatan, melaporkan bahwa pada hari yang sama mereka mengirimkan lebih dari 100 truk membawa 1.200 ton makanan melalui perbatasan Kerem Shalom. Tapi distribusi itu tak sebanding dengan kebutuhan 2,2 juta jiwa yang terjebak di wilayah sempit yang nyaris tak memiliki akses energi, air bersih, dan medis.
Internasional Mulai Kehabisan Kesabaran
Dunia internasional tidak tinggal diam. Kelompok yang terdiri dari 25 negara, termasuk Inggris, Prancis, dan Kanada, secara terbuka mengutuk tindakan Israel yang membatasi masuknya bantuan penting ke Gaza. Mereka menyebut “pengaturan bantuan secara bertahap” sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dalam norma kemanusiaan global.
Tekanan politik semakin meningkat setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan rencana untuk secara resmi mengakui negara Palestina pada bulan September—sebuah langkah diplomatik yang disambut baik di banyak negara Global South, tapi menimbulkan kekhawatiran di Tel Aviv dan Washington.
Negosiasi Gencatan Senjata Kandas
Di sisi lain, perundingan gencatan senjata yang dimediasi di Doha antara Israel dan Hamas kembali menemui jalan buntu. Baik Israel maupun Amerika Serikat secara terbuka menyatakan bahwa Hamas “tidak serius” dalam mencapai kesepakatan. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan pengunduran diri dari meja negosiasi, yang memperkuat sinyal bahwa perang masih akan terus berlanjut tanpa arah yang jelas.
Ironisnya, Israel mengklaim telah mengizinkan cukup banyak bantuan masuk ke Gaza selama masa perang. Mereka menyalahkan Hamas atas distribusi yang buruk dan menganggap bahwa militanlah yang menahan bantuan agar tak sampai ke warga sipil. Namun fakta bahwa warga sipil masih mati kelaparan, rumah sakit lumpuh, dan truk bantuan ditembaki menunjukkan bahwa sistem pengawasan dan kendali distribusi Israel justru menjadi bagian dari masalah.
