Hujan Kemarau: Sampai Kapan Fenomena Ini Berlanjut?

Hujan Kemarau: Sampai Kapan Fenomena Ini Berlanjut?

Halo, Pembaca Setia! Apa kabar? Semoga sehat selalu, ya. Ngomong-ngomong soal cuaca, rasanya akhir-akhir ini kita semua sedikit dibingungkan, bukan? Musim kemarau yang identik dengan terik matahari menyengat, langit biru cerah, dan sawah yang mulai mengering, kini seolah berubah. Mendung gelap tiba-tiba menggelayut, lalu disusul rintik, bahkan guyuran deras. Padahal, katanya ini lagi musim kemarau! Fenomena ini, yang sering disebut ‘kemarau basah’, memang bikin kening berkerut. Lantas, sampai kapan ya Hujan Kemarau ini akan betah bersama kita?

Kondisi ini tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan. Ada yang heran, ada yang senang karena cuaca tidak terlalu panas, tapi tak sedikit pula yang khawatir akan dampaknya. Mari kita coba bedah lebih dalam fenomena unik ini, berdasarkan penjelasan dari para ahli di bidangnya.

BMKG: Ini Masih Dalam Batas Normal

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentu tidak tinggal diam melihat keanehan cuaca ini. Mereka mencatat, di awal Agustus 2025 ini saja, beberapa wilayah sudah diguyur hujan lebat, bahkan ekstrem. Sebut saja Maluku dengan curah hujan luar biasa mencapai 205,3 mm per hari, disusul Kalimantan Barat (89,5 mm/hari), Jawa Tengah (83 mm/hari), sampai Jabodetabek yang juga kebagian jatah hujan deras (121,8 mm/hari). Angka-angka ini tentu bukan main-main untuk sebuah periode yang seharusnya menjadi puncak musim kemarau.

Meskipun demikian, Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, menjelaskan bahwa sebenarnya kondisi ini masih ‘normal’ secara klimatologis. “Seperti yang disampaikan BMKG, kondisi ini akan berlanjut hingga musim hujan tiba,” ujarnya. Pernyataan ini sedikit menenangkan, namun sekaligus membuat kita bertanya-tanya lebih lanjut, kapan dong musim hujan yang sebenarnya tiba? Dan mengapa ‘normal’ di tengah kemarau ini terasa sangat berbeda?

Baca Juga  Omoway Luncurkan Motor Listrik Otonom Futuristik: Teknologi dan Gaya Jadi Satu

Menguak Misteri di Balik ‘Kemarau Basah’

Jadi, apa sih sebenarnya penyebab di balik ‘kemarau basah’ ini? Ternyata, bukan cuma kebetulan atau tiba-tiba. Ada beberapa faktor ilmiah yang bermain di belakang layar, membuat fenomena ini terjadi. Mari kita intip dapur ilmu pengetahuan cuaca:

  • Indian Ocean Dipole (IOD) Negatif

    Bayangkan Samudra Hindia punya ‘gerakan’ sendiri yang memengaruhi cuaca kita. Saat IOD berada pada fase negatif (seperti sekarang di level -0,6), suhu permukaan laut di bagian barat Samudra Hindia menjadi lebih dingin dibandingkan bagian timur. Akibatnya, area di sekitar Indonesia, khususnya bagian barat, cenderung lebih hangat. Nah, suhu laut yang hangat ini ‘memompa’ lebih banyak uap air ke atmosfer, jadilah bahan baku awan hujan melimpah.

  • Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO)

    Ini seperti gelombang raksasa di atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di sekitar ekuator. Ketika MJO aktif di wilayah kita, khususnya Sumatera hingga Jawa bagian barat, ia memicu pembentukan awan-awan hujan yang masif. Jadi, kalau MJO lagi lewat di rumah kita, siap-siap saja diguyur hujan. Keberadaannya ini memberikan dorongan ekstra bagi pembentukan awan-awan konvektif.

  • Bibit Siklon Tropis & Gelombang Atmosfer Lainnya

    Ada juga ‘Bibit Siklon Tropis 90S’ di Samudra Hindia, barat daya Bengkulu. Meskipun masih bibit dan belum menjadi siklon penuh, keberadaannya ini bisa memicu ‘konvergensi angin’ (pertemuan massa udara) di sepanjang Pulau Jawa, yang lagi-lagi, ujung-ujungnya bikin awan hujan makin subur. Ditambah lagi, ada aktivitas gelombang atmosfer lain seperti Kelvin, Rossby Ekuator, dan Low-Frequency yang juga ikut campur dalam ‘pesta’ awan hujan ini. Intinya, banyak faktor pemicu yang sedang ‘kompak’ bekerja sama, menciptakan kondisi ideal bagi Hujan Kemarau.

Kompleksitas interaksi antara faktor-faktor ini menjelaskan mengapa meskipun secara klimatologis kita berada di musim kemarau, kondisi atmosfer justru mendukung terbentuknya awan dan hujan.

Sampai Kapan ‘Kemarau Basah’ Ini Bertahan?

Lalu, pertanyaan besarnya: sampai kapan fenomena ini akan terus mewarnai hari-hari kita? Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, sempat menjelaskan bahwa anomali curah hujan ini sudah terasa sejak Mei 2025 dan diprediksi akan terus berlanjut hingga Oktober. Wah, berarti masih cukup lama ya? Ia menambahkan bahwa melemahnya Monsun Australia, yang seharusnya membawa musim kemarau, justru menyebabkan suhu muka laut di selatan Indonesia tetap hangat. Kondisi inilah yang berkontribusi signifikan terhadap anomali curah hujan yang kita alami sekarang, dan diproyeksikan akan terus berlangsung hingga transisi ke musim hujan.

Baca Juga  Investasi Kuartal II: RI Meroket, Mesin Pendorongnya!
1
2
CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )