Fri. Apr 12th, 2024

Bandung, Rabu, 28 Februari 2024 – Pamor Wicaksono, SH, Anggota DPRD Kabupaten Brebes yang telah memasuki periode keempatnya, menghadirkan momen yang sarat makna dengan melakukan ziarah ke makam Ibu Inggit Garnasih, istri dari Proklamator Bung Karno.

Dalam sebuah ziarah yang penuh penghormatan, Pamor Wicaksono mengunjungi makam Ibu Inggit Garnasih dengan harapan agar beliau diakui sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya yang besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ibu Inggit Garnasih, sebagai istri dari Bung Karno, telah memainkan peran yang penting dalam menjaga semangat dan mempertahankan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan.

Inggit Garnasih (17 Februari 1888 – 13 April 1984) adalah istri kedua Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Mereka menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda. Inggit dan Soekarno bercerai di Pegangsaan Timur 56 yang disaksikan oleh Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur. Sekalipun bercerai tahun 1942 dan Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap Soekarno, termasuk melayat saat Soekarno meninggal. Kisah cinta Inggit-Soekarno ditulis menjadi sebuah roman yang disusun Ramadhan KH yang dicetak ulang beberapa kali sampai sekarang. Beliau meninggal di Bandung pada tanggal 13 April 1984. Dua bulan sebelum meninggal, Fatmawati mengunjungi beliau atas bantuan Ali Sadikin.

ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, dimana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman-temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Di antara mereka beredar kata-kata, “Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.” Banyak pemuda yang menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang yang rata-rata jumlahnya seringgit. Itulah awal muda sebutan Inggit yang kemudian menjadi nama depannya.

Pamor Wicaksono, yang juga dikenal karena slogannya “Takkan kubiarkan rakyat menunggu”, menegaskan betapa pentingnya mengenang dan menghargai peran seorang ibu dalam sejarah bangsa. Dalam kunjungannya, Pamor Wicaksono menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ibu Inggit atas jasanya yang besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ziarah Pamor Wicaksono ke makam Ibu Inggit Garnasih menjadi momentum untuk memperkuat rasa nasionalisme dan mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa. Harapannya, dengan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional, Ibu Inggit Garnasih akan diabadikan sebagai contoh teladan bagi generasi muda Indonesia.

Pamor Wicaksono menyampaikan, “Ibu Inggit Garnasih adalah sosok yang luar biasa dalam sejarah perjuangan Indonesia. Beliau tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh kaum perempuan di negeri ini. Sudah waktunya kita mengakui jasa-jasa beliau dengan menganugerahkannya gelar Pahlawan Nasional.”

Pamor Wicaksono juga menyatakan komitmennya untuk terus memperjuangkan pengakuan resmi bagi Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional di tingkat nasional. Ia menegaskan bahwa penganugerahan gelar tersebut akan menjadi penghormatan yang layak bagi perjuangan dan dedikasi yang telah ditunjukkan oleh Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih merupakan sosok pahlawan yang sebenarnya memiliki jasa yang sangat besar untuk kemerdekaan Indonesia, bagaimana tidak, Inggit Garnasih lah yang selalu setia mendampingi Soekarno dimasa-masa sulitnya, akan tetapi namanya tak pernah disebut dalam buku pelajaran. Inggit Garnasih adalah ibu kos Bung Karno selama masih sekolah. Bagi pembaca yang belum mengenal sosok Inggit Garnasih, beliau adalah istri kedua Soekarno yang membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Bahkan saat Bung Karno dipenjara karena aktivitas politik menentang Belanda, Beliaulah yg membawakan makanan dan buku sebagai penghibur Bung Karno. Selama ini nama Inggit Garnasih masih asing di telinga masyarakat Indonesia bahkan yang lebih menprihatinkan namanya masih asing di tanah kelahirannya yaitu Kamasan

Bahkan satu-satunya permohonannya kepada negara, tempat untuk memakamkan jasadnya, tetapi itu pun ditolak. Satu-satunya permohonannya tapi ditolak pula sungguh menyedihkan. Namun deritanya tidak sampai di situ. Masih ada yang lebih memilukan. Yakni walaupun jasanya besar, sampai hari ini, 39 tahun setelah ia meninggal, ia tak kunjung diberikan gelar pahlawan nasional padahal sudah berulang kali diusulkan .

Momen ziarah ini juga mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga dan memelihara nilai-nilai sejarah serta menghargai peran perempuan dalam membangun dan memajukan bangsa. Semoga langkah Pamor Wicaksono ini menjadi inspirasi bagi para pemimpin dan masyarakat untuk terus menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa, termasuk peran besar yang dimainkan oleh para ibu dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Visited 15 times, 1 visit(s) today

By Admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *